Rangda;dalam pemaknaan Tantra



Tiada akan pernah lelah manusia untuk memaknai kegaiban yang remang-ramang. Adanya kepercayaan dan agama sesungguhnya adalah upaya manusia untuk menterjemahkan yang gaib (niskala) dan remang-remang itu dalam wujud konkritnya. Meskipun kadangkalanya memunculkan hal-hal yang absurd dan irasional. Tetapi, semua itu adalah cara manusia untuk memahami kegaiban itu. Sebagaimana sejatinya manusia adalah makhluk yang terpesona dengan kegaiban, dan gaib terkadang menjadi solusi ketika permasalahan rasio (sekala) tidak mampu menjawabnya. Gaib seolah memesonakan dirinya dalam citra magi, mana, matra dan mistis sehingga manusia terwajibkan untuk menjadi tahu, kenal, masuk dan bahkan menjadikan dirinya gaib.
Dalam mistik Tantra daya gaib diberlakukan dalam setiap laku kita. Terlebih dalam praktik dan ritualnya. Sebab daya gaib adalah Sakti sebagai terusan dari kekuatan semesta yang mutlak. Kehadiran daya gaib memunculkan kekaguman, sehingga Tantra memujanya dalam citra yang menyeramkan. Sebab Tantra memandang daya gaib sebagai kekuatan energi yang maha dasyat yang melampui segala keterbatasan indriawi. Jadi, citra yang demikian semata-mata hanyalah penggambaran bahwa untuk kita menyadari bahwa kegaiban melampui hal-hal yang menakutkan. Dan, untuk kita menyatu dengan kegaiban itu, terlebih dahulu ketakutan dalam diri hendaknya ditaklukan.
Rangda sakral di Bali merupakan salah satu penggambaran daya gaib yang dilakukan leluhur Bali. Membuktikan praktik-praktik Tantra masih dilakukan hingga kini. Sekaligus pembuktian pula bahwa daya gaib memiliki daya magi yang kuat dibalik arus global dan modernitas. Meskipun belakangan pengkultusan Rangda menghilangkan makna dan hakikat yang sebenarnya. Rangda yang disakralkan justru dijadikan ikonik yang membubungkan sisi keakuan manusia. Dijadikan ajang kontestasi dalam konteks yang tidak lazim. Bahkan Rangda dipentaskan dalam pementasan Calonarang bukan lagi sebagai citra Sakti sebagai penyomnya dalam spirit Tantrapuja, tetapi dijadikan media mempertontonkan kesaktian.
Spirit Tantra dalam citra Rangda sudah kehilangan identias kesejatiannya. Leluhur Bali menghadirkan citra ini sesugguhnya agar kita selalu diingatkan untuk dekat dan lebur dalam kegaiban itu. Dalam arti, menyadari kekuatan itu memang ada dalam kehidupan sekala untuk "penyeimbang" atau pengharmoni. Spiritnya terletak bukan pada kedsyatannya, tetapi asa kemanfaatan dari daya gaib itu untuk melebur dan meneutral (nyomya) sisi kabhutaan dalam diri dan ngeruwat bumi. Sebab keseimbangan diri akan membawa dampak terhadap keseimbangan kosmos pun sebaliknya.
Luar biasanya leluhur adalah terletak pada kesederhanaanya dalam mewujudkan kegaiban itu dalam simbol-simbol yang dekat dengan kehidupan manusia. Rangda dibuat dalam sosok menyeramkan sebab manusia adalah sang penakut sesungguhnya. Ketakutan sangat dekat dengan kehidupan manusia, sehingga Rangda dibuat dengan pola-pola yang menyeramkan. Secara psikologis jelas, agar kita menemukenali ketakutan itu dan menjadikannya sahabat dalam kehidupan. Merangkulnya dalam pelukan kasih, seperti rangkulan seorang Ibu terhadap anaknya, menghangatkan dan mendamaikan. Kehadiran Rangda yang menyeramkan tiada lain adalah ruang untuk kita berdiam, hening, ke dalam memeluk ketakutan kita akan segalanya. Sehingga, kita bukan lagi berada dalam ketakutan, tetapi harmoni selaras dalam kasih semesta yang mana gaib selalu mengagumkan.
*Dosen IHDN Denpasar
Penulis Buku Tantra


Share on Google Plus

wak laba

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

http://waklaba.blogspot.com/. Powered by Blogger.