#Guru




Seorang Guru Suci begitu terpesona akan kesucian dirinya. Anggapan bahwa dirinya orang suci sangat melakat padanya, sehingga ia menjauhkan diri dari segala bentuk kekotoran. Ia merasa bahwa dirinya sudah mencapai Tuhan dan menjadi Tuhan.

Suatu ketika seorang Gundik perempuan bermaksud menemuinya di pertapaan. Si perempuan ingin menceritakan dirinya dan kesalahannya yang banyak. Berbohong dan meniduri laki-laki tidak terhitung jumlahnya adalah kesalahan yang menyedihkan. Maka ia menawarkan dirinya kepada sang Guru agar dituntun menemukan pencerahan.

Tapi malang, Sang Guru tidak mau menemuinya. Gurupun mencemoohnya, dan menghardik akan noda dan dosa si perempuan. Segera ia mengusirnya. Si perempuan hanya bisa menghela nafas. Kemudian ia bernyanyi di luar pertapaan untuk menghibur diri. Sayup-sayup nyanyianya terdengar merdu. Angin semilir mengantarkan nyanyian itu ke telinga Sang Guru.
"Pertapa bodoh...kenapa masih terikat tubuh. Pertapa dungu kenapa masih melihat kekotoran. Pertapa malang kenapa tidak melihat ku bukan badan. Oh...ada sang sukma dalam diriku. Sukma yang sama dengan semuanya. Sukma selayaknya cahaya mentari yang sinarnya sama, baik pada kendi yang terbuat dari emas maupun dari tanah liat. Oh...dengarkan nyanyian ku...nyanyian dari sukmaku yang bukan aku badan ini."

Sang Guru tercengang. Ia kemudian berlari menemui perempuan itu. Tetapi, ia sudah menghilang. Kesadaran menyeruak dalam dirinya. Anggapan selama ini atas kesucian dirinya pupus sudah. Perempuan itu seharusnya orang suci, sebab ia menyadari dirinya dengan sadar penuh atas apa yang ia lakukan selama hidup.#rahayu

Oleh : I Ketut Sandika
Penulis Buku Tantra

Share on Google Plus

wak laba

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

http://waklaba.blogspot.com/. Powered by Blogger.