Filosofi Bale Dangin




Oleh ; I Ketut Sandika

Spirit Arsitektur Bali yang Membebaskan
Seni arsitektur Bali tidak saja menonjolkan aspek estetik. Tetapi spirit dalam lingkar makna teologis yang kuat. Salah satunya adalah Bale Dangin atau Bale Semanggen. Secara fungsional, bale ini difungsikan untuk menempatkan mayat orang atau penghuni yang meninggal. Salah satu bagian yang menarik dari beberapa bagian dalam bangunan ini adalah bentuk atapnya yang menyerupai piramid. Titik central atau pusat dipasang tiang pancang (tugeh) yang terhubung dengan pementang/lambang. Tatakan atau alas tugeh (tiang) ditempatkan sebuah patung Garuda Wisnu di mana Bhatara Wisnu sedang memegang cecupu manik. Kemudian setiap sudut terhubung menyesuaikan arah mata angin dipasang pamadé, dan ige-ige terpasang berdasarkan hitungan mistik. Hitunganya adalah sri, werdhi, naga, hyang, mas, dan perak. Untuk bale dangin hitungan penempatan ige-ige diusahakan jatuh pada hitungan werdhi. Kemudian yang melingkari ige-ige disebut lilit yang berbetuk segi empat. Kemudian, penghubung tugeh (tiang) dengan titik pusat atap yang disebut lelangit dipasang kencut.

Semua itu menunjukkan corak yang khas dari seni arsitektur Bali, khusunya Bale Semanggen. Semua itu tentu ada makna teo filosofisnya yang identik dengan hal yang magi atau mana. Secara teologis pemadé dan ige-ige yang menghubungkan lambang, pementang dengan lelagit bertemu pada titik pusat merupakan simbolisasi kekuatan Dewata Nawa Sanga atau dewa penguasa arah mata angin. Titik pusat simbol sthana Bhatara Siwa sebagai sanghyang Isana. Kemudian tugeh simbol linggam siwa yang ditopang Bhatara Wisnu dengan wahana Sang Garuda sebagai pralambang kesuburan. Ketika akasa bertemu dengan pertiwi melalui perantara linggam, kesuburan akan terjadi. Kemudian, hitungan ige-ige hendaknya jatuh di werdhi sebagai semion penanda bahwa kehidupan berawal dari kematian dan kematian awal kehidupan.

Kemudian bangunan atap yang menyerupai piramid dapat dilihat secara magi, dan dapat disentuhkan dengan tafsir saintifik. Bangunan dengan bentuk atap yang demikian sesungguhnya memiliki daya gaib yang kuat. Di alam bertebaran partikel energi kosmik, dan bentuk atap yang seperti ini partikel energi dapat terakumulasi dengan baik dalam ruang, sehingga terkumpul. Partikel tersebut akan terhubung dengan muatan akasa dan pertiwi dalam vertikal yang terfokus. Jadi partikel yang terkondisikan akan mudah didownlod/diserap oleh tubuh yang senyawa dengan partikel energi ketika kita ada di bawah titik pusat/tengah/tugeh. Sehingga candi Siwa Budha pada bagian atapnya pasti berbentuk piramid yang sesungguhnya pintu niskala yang menghubungkan alam sekala-nisakala. Bahkan dalam tradisi pengiwan di Bali, orang yang praktik ngelekas atau ngeleak tempatnya pasti di Bale Semanggen.

Hal itu menunjukkan bahwa arsitektur bangunan Bali mengandung teknologi spirit kelas tinggi. Bhagawan Wiswakarma sebagai sang maha guru menurunkan pengetahuan tersebut kepada Undagi tentunya ada tujuan elementer bagi kehidupan manusia. Sekarang tergantung kita untuk mengikuti "geguwat" itu sebagai guru kehidupan. Weda wastu, Asta Bumi, Asta Kosala-Kosali, Lontar nyukat karang, barong swari, pamancangah barong, pamcangah undagi semua itu adalah pengetahuan Hindu yang inheren dengan tekno-saintifik. Sri Candrasekarendra Saraswati berujar, ilmu Weda Wastu adalah pengetahuan yang dapat melihat kesemestaan dalam keteraturan berjuta-juta tahun yang akan datang, dan tidak terbatas. Sedangkan sains modern tak mampu melakukan itu, sains modern hanya mampu melihat dengan keterbatasan. Hal yang sama juga diucapkan Gusti Nyoman Lempad, bahwa Asta Bumi dan Asta Kosala-Kosali adalah pengetahuan yang dapat melihat energi kosmos yang asbtrak dalam simbolikum yang akan membebaskan diri seseorang dalam kemanunggalan kosmik.
#rahayu
#fotorumahbapakketutsuardanaubudbali


Share on Google Plus

wak laba

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

http://waklaba.blogspot.com/. Powered by Blogger.